Modifikasi Cuaca di Sumut Dilaporkan Berhasil Turunkan Hujan, Upaya Atasi Kabut Asap Masih Berlanjut
Petugas mempersiapkan operasi modifikasi cuaca menggunakan pesawat untuk membantu penanganan kabut asap di Sumatera Utara.
NAIRAS NEWS - Operasi modifikasi cuaca yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dilaporkan mulai membuahkan hasil dengan turunnya hujan di sejumlah wilayah. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, sementara operasi penanganan masih direncanakan berlanjut.
Langkah ini dilakukan menyusul kondisi kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah di Sumatera Utara. Pemerintah daerah berupaya mendorong terjadinya hujan melalui teknik modifikasi cuaca sebagai salah satu langkah penanganan darurat.
Pada Kamis (15/10/2026), Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menyampaikan upaya pemerintah untuk memicu turunnya hujan melalui operasi modifikasi cuaca. Kawasan Danau Toba disebut menjadi salah satu wilayah yang lebih dahulu menjadi sasaran operasi.
Sehari kemudian, Jumat (16/10/2026), Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya melepas penerbangan pesawat modifikasi cuaca dari Terminal Kargo Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang.
Gunakan Pesawat Cessna untuk Penyemaian AwanDalam operasi tersebut, pesawat jenis Cessna digunakan untuk menyebarkan natrium klorida (NaCl) ke awan yang memenuhi kondisi atmosfer tertentu. Bahan tersebut dimanfaatkan dalam proses penyemaian awan (cloud seeding) untuk membantu merangsang pembentukan hujan.
Wilayah Medan, Binjai, Deli Serdang, dan sekitarnya ditetapkan sebagai sasaran awal operasi. Pelaksanaan selanjutnya direncanakan menyesuaikan kondisi cuaca dan kebutuhan di wilayah lain.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, Tuahta Saragih, menyebutkan bahwa operasi tersebut direncanakan berlangsung selama tiga hari. Setiap penerbangan diperkirakan membawa sekitar satu ton bahan NaCl dengan durasi penerbangan kurang lebih dua jam.
Hujan Dilaporkan Turun, Dampak Masih Perlu DipantauLaporan media lokal pada Sabtu (17/10/2026) menyebutkan bahwa hujan mulai turun setelah operasi modifikasi cuaca dilakukan dan kondisi kabut asap berangsur menipis.
Meski demikian, hubungan langsung antara operasi tersebut dan turunnya hujan perlu dikonfirmasi melalui evaluasi teknis. Data curah hujan, kondisi atmosfer, serta hasil pemantauan kualitas udara diperlukan untuk menilai efektivitas operasi secara lebih terukur.
Hujan berpotensi membantu mengurangi partikel di udara, tetapi dampaknya terhadap kabut asap dapat berbeda-beda bergantung pada intensitas hujan, kondisi angin, dan sumber polusi yang masih berlangsung.
Kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menurunkan jarak pandang serta mengganggu aktivitas masyarakat. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan modifikasi cuaca, tetapi juga memerlukan upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran.
Masyarakat Diimbau Memperhatikan Kualitas UdaraMasyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap memperhatikan informasi kualitas udara dari instansi berwenang. Apabila kabut asap kembali pekat atau kualitas udara memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas berat di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel.
Pemantauan kondisi udara dan perkembangan kebakaran juga perlu terus dilakukan untuk mengetahui apakah langkah penanganan yang ditempuh telah memberikan dampak yang memadai.
Operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya pemerintah untuk membantu mengatasi kondisi darurat. Namun, keberhasilan penanganan kabut asap tetap perlu dinilai berdasarkan data lapangan, perkembangan karhutla, dan perubahan kualitas udara di wilayah terdampak.





